JAKARTA — Data pemantauan Kementerian Kehutanan hingga pukul 21.15 WIB menunjukkan penambahan titik panas yang terindikasi di sejumlah wilayah. Kalimantan Selatan mencatat kenaikan paling tajam, dari enam menjadi 40 titik, sedangkan Sumatera Selatan bertambah dari 17 menjadi 38 titik.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, mengatakan peningkatan tersebut menjadi perhatian pemerintah untuk memperketat pemantauan dan memastikan setiap indikasi di lapangan segera diverifikasi.
Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat Justru Turun
Kondisi berbeda terjadi di dua provinsi lain di Kalimantan. Kalimantan Tengah mengalami penurunan hotspot dari 57 menjadi 30 titik. Penurunan lebih besar tercatat di Kalimantan Barat, dari 14 titik menjadi hanya dua titik.
Jika dilihat berdasarkan tingkat kepercayaan deteksi, enam provinsi prioritas pengendalian karhutla mencatat total 111 hotspot kategori high confidence. Riau tidak mencatat hotspot high confidence, sementara Jambi masih memiliki satu titik.
Ristianto menegaskan data hotspot digunakan sebagai salah satu dasar untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di daerah yang mengalami kenaikan jumlah titik panas.
Hotspot Bukan Berarti Sudah Terjadi Kebakaran
Kementerian Kehutanan mengingatkan keberadaan hotspot tidak serta-merta menunjukkan telah terjadi kebakaran hutan dan lahan. Titik panas merupakan indikasi adanya anomali temperatur permukaan yang terdeteksi oleh satelit.
"Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik deteksi," kata Ristianto, menjelaskan bahwa angka hotspot tidak dapat dijadikan patokan langsung untuk menentukan jumlah kebakaran ataupun luasan lahan yang terbakar.
Setiap indikasi yang terpantau tetap membutuhkan pengecekan langsung untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.
61 Armada Udara Disiagakan, 55 Unit di Provinsi Prioritas
Untuk memperkuat penanganan karhutla, pemerintah menyiapkan 61 armada udara. Sebanyak 17 unit digunakan untuk kebutuhan patroli sekaligus mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Sementara itu, 44 armada lainnya dipersiapkan untuk menjalankan operasi water bombing atau pemadaman menggunakan bantuan udara. Dari total armada tersebut, 55 unit ditempatkan di enam provinsi yang masuk wilayah prioritas pengendalian karhutla.
Penanganan dari udara dilakukan bersamaan dengan upaya di darat. Operasi tersebut melibatkan Manggala Agni, BNPB, TNI dan Polri, BPBD, pemerintah daerah, relawan, masyarakat, hingga pihak swasta.
Petugas di lapangan menjalankan sejumlah kegiatan, seperti patroli, pemeriksaan lokasi yang terindikasi mengalami kebakaran, pemadaman, pembasahan lahan, serta pendinginan untuk mencegah api kembali muncul.
Jarak Pandang di Palangka Raya Hanya 0,6 Kilometer
Selain memantau titik panas, pemerintah juga memperhatikan dampak asap terhadap kondisi udara di sejumlah daerah. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi berasap masih terpantau di beberapa wilayah.
Di Palangka Raya, jarak pandang dilaporkan hanya sekitar 0,6 kilometer. Jarak pandang di Banjarmasin berada di kisaran 1,7 kilometer, Pontianak sekitar 2 kilometer, dan Jambi mencapai 4,8 kilometer.
Ristianto mengatakan perubahan jumlah hotspot tidak selalu langsung berbanding lurus dengan kondisi kualitas udara. Asap yang telah berada di atmosfer dapat bertahan maupun berpindah mengikuti pola angin dan kondisi atmosfer.
Karena itu, pemantauan titik panas, kualitas udara, kondisi cuaca, dan jarak pandang terus dilakukan secara bersamaan sebagai bagian dari upaya pengendalian karhutla.