Musik Gamad Hampir Senyap di Padang Panjang, Pemerhati Budaya: Bukan Sekadar Soal Selera, Ruang Sosialnya Kian Sempit
PADANG PANJANG — Suara biola, akordeon, dan gendang yang khas dari Musik Gamad perlahan menghilang dari kehidupan masyarakat Kota Padang Panjang. Kesenian yang pernah menjadi pengiring berbagai aktivitas sosial ini kini hanya tinggal kenangan, menyisakan kekhawatiran akan punahnya warisan budaya dari kaki Bukit Tui tersebut.
Indra Utama, pemerhati budaya setempat, menegaskan bahwa hilangnya Gamad dari ruang publik bukan persoalan dangkal tentang selera musik semata. Menurutnya, ada persoalan yang lebih mendasar: ruang sosial yang dulu menopang kehidupan musik itu kini tidak lagi tersedia.
Dari Tanah Hitam ke Senandung Malam: Jejak Kejayaan yang Memudar
Kawasan Tanah Hitam pernah menjadi pusat tumbuh kembangnya Gamad di Padang Panjang. Di daerah yang berada di kaki Bukit Tui tersebut, keluarga Yul Tu-Um memegang peran penting dalam menjaga kesenian ini tetap hidup.
Nama-nama seperti Akhjar Adam, pemain akordeon tunanetra, masih dikenang sebagai bagian dari sejarah panjang musik ini. Indra menilai sosok seperti Akhjar Adam adalah bukti bahwa musik pernah menjadi ruang sosial yang terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang keterbatasan.
Jejak kejayaan itu kemudian berlanjut lewat Group Senandung Malam pimpinan Yul Tu-Um. Sekitar satu dekade lalu, grup ini menjadi salah satu yang terakhir tampil memainkan Gamad di hadapan para perantau Padang Panjang di lapangan depan Secata. Pertunjukan itu kini dikenang sebagai momen pamungkas yang melibatkan banyak penyanyi dari Tanah Hitam.
Regenerasi Terhenti dan Tantangan Zaman Modern
Penelitian Fadhila Ramadhani dari Institut Seni Indonesia Padang Panjang pada 2021 mencatat bahwa popularitas Gamad terus menurun seiring perkembangan zaman. Berkurangnya jumlah pemain dan minimnya regenerasi menjadi tantangan terbesar dalam mempertahankan kesenian ini.
Perubahan teknologi serta menjamurnya bentuk hiburan modern turut menggerus minat masyarakat terhadap musik tradisional ini. Aktivitas Group Senandung Malam pun akhirnya terhenti setelah dua tokoh pentingnya, Yul Tu-Um dan Burhanuddin, meninggal dunia dan anggota lain tak lagi tampil.
Bagi Indra, hilangnya sebuah tradisi musik berarti lebih dari sekadar berhentinya pertunjukan. Yang ikut menghilang adalah cerita, pengetahuan, teknik permainan, serta ruang sosial yang selama ini menopang keberadaannya.
Menghidupkan Kembali: Panggung Rendah dan Ruang Kuliner Malam
Kendati nyaris senyap, Indra meyakini Gamad masih punya peluang untuk bangkit. Salah satu caranya adalah dengan menghadirkan kesenian ini di ruang publik yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti kawasan kuliner malam yang kerap dikunjungi warga.
Ia mengusulkan konsep pertunjukan yang lebih sederhana dan akrab. Panggung rendah dengan jarak dekat antara pemain dan penonton dinilai lebih sesuai dengan karakter Gamad yang tumbuh dari rakyat.
"Musik tidak akan hidup hanya karena ada orang yang mampu memainkannya. Musik membutuhkan ruang sosial, penonton, kesempatan tampil, dan masyarakat yang merasa bahwa kehadirannya memiliki arti," ujarnya.
Langkah Kecil untuk Senandung yang Panjang
Indra menambahkan, pelestarian budaya tak selalu butuh program besar. Menyediakan satu malam pertunjukan Gamad setiap bulan di ruang publik bisa menjadi langkah awal yang efektif untuk membangkitkan kembali tradisi tersebut.
Ia berharap pemerintah daerah, seniman, komunitas budaya, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat bisa bersama-sama menciptakan ruang baru bagi keberlangsungan Gamad. "Senandung Gamad tidak harus berakhir bersama para pemain generasi sebelumnya. Pertanyaannya sekarang adalah siapa yang akan melanjutkannya," katanya.
Gamad tidak perlu dipaksa kembali ke masa lalu, melainkan diberi kesempatan menemukan tempatnya di tengah kehidupan modern. Jika ruang itu kembali terbuka, bukan tidak mungkin suara biola, akordeon, dan gendang akan kembali terdengar di sudut-sudut Kota Padang Panjang sebagai identitas budaya yang tetap hidup.