Wali Kota Padang Fadly Amran Kunci Arah Pembangunan 5 Tahun ke Depan: Transformasi Ekonomi dan Pemulihan Pascabanjir
PADANG — Wali Kota Padang Fadly Amran menegaskan transformasi ekonomi menjadi arah pembangunan Kota Padang dalam lima tahun ke depan. Pernyataan itu disampaikan dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD memperingati Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357 di Gedung DPRD Kota Padang, Jumat (7/8).
Fadly mengatakan Hari Jadi Kota Padang merupakan momentum untuk menghormati perjalanan sejarah, mengevaluasi kondisi saat ini, sekaligus menyiapkan masa depan yang lebih baik dengan tetap berpegang pada falsafah "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah."
"Kita ingin maju tanpa kehilangan identitas, tumbuh tanpa meninggalkan masyarakat yang lemah, dan membangun tanpa merusak lingkungan," ujarnya.
Pemulihan Pascabanjir Jadi Titik Awal Transformasi
Fadly menyampaikan keprihatinan atas bencana banjir yang melanda Kota Padang pada 3 Agustus 2026. Pemerintah Kota Padang terus melakukan penanganan serta pemulihan bersama seluruh unsur terkait.
"Titik awal transformasi ekonomi kita adalah pemulihan pascabencana hidrometeorologi. Rehabilitasi dan rekonstruksi harus menggunakan prinsip Build Back Better. Jalan, jembatan, drainase, sungai, permukiman, pasar, kawasan pendidikan, pusat pelayanan, dan destinasi wisata tidak cukup dikembalikan seperti semula, semuanya harus ditata kembali agar lebih aman, terhubung produktif, inklusif, dan tangguh terhadap bencana berikutnya," katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada BPBD, TNI, Polri, tenaga kesehatan, aparatur kecamatan dan kelurahan, relawan, dunia usaha, serta masyarakat yang telah bergotong royong membantu warga terdampak banjir.
Tiga Kekuatan Utama: Pendidikan, Pariwisata, dan Perdagangan
Menurut Fadly, Kota Padang memiliki tiga kekuatan utama sebagai kota jasa, yakni kota pendidikan, kota pariwisata, serta kota perdagangan dan konektivitas. Kota Padang saat ini memiliki puluhan perguruan tinggi, termasuk 46 perguruan tinggi swasta yang menjadi tempat belajar lebih dari 180 ribu mahasiswa.
Kehadiran civitas akademika tersebut turut menggerakkan sektor hunian, transportasi, kuliner, kesehatan, teknologi, hingga ekonomi kreatif. Di sektor pariwisata, kunjungan wisatawan ke Kota Padang pada 2025 mencapai 5,3 juta orang, meningkat dibandingkan 4,3 juta orang pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, realisasi retribusi objek wisata mencapai sekitar Rp922 juta atau 153 persen dari target. Tantangan berikutnya bukan hanya menambah jumlah kunjungan, tetapi memperpanjang lama tinggal wisatawan, meningkatkan belanja wisatawan, memperbaiki mutu destinasi, dan memperluas manfaatnya bagi masyarakat.
Peran Strategis Padang sebagai Pusat Distribusi Regional
Fadly menjelaskan transformasi ekonomi yang dijalankan Pemerintah Kota Padang tidak hanya berorientasi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat produktivitas, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas kesempatan kerja, menaikkan kelas usaha lokal, serta memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.
"Padang juga merupakan kota perdagangan dan konektivitas. Perdagangan besar dan eceran menyumbang 17,52 persen terhadap PDRB Kota Padang, sedangkan transportasi dan pergudangan menyumbang 15,68 persen. Posisi ini menegaskan peran Padang sebagai pusat distribusi barang, orang, dan jasa bagi Sumatera Barat serta kawasan pantai barat Sumatera," katanya.
Kolaborasi Antarinstansi Jadi Kunci Jawab Tantangan
Ketua DPRD Kota Padang Muharlion mengatakan berbagai pencapaian pembangunan yang telah diraih pemerintah daerah masih diiringi sejumlah tantangan yang harus diselesaikan secara bersama-sama. "Tantangan itu harus menjadi agenda bersama agar dapat terselesaikan dengan baik, untuk mencapai itu perlu kolaborasi, mari kita berkolaborasi untuk pembangunan Kota Padang," kata Muharlion.
Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Barat Adib Alfikri yang mewakili Gubernur Sumatera Barat mengatakan kemajuan Kota Padang merupakan bagian dari kemajuan Sumatera Barat sehingga pembangunan daerah tersebut memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan.
"Karena itu pula pembangunan Kota Padang tidak boleh dipandang sebagai tanggung jawab Pemko Padang semata, tetapi pembangunan Kota Padang adalah kerja bersama, yang memerlukan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, Pemko Padang, DPRD, Forkopimda, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas dan banyak lainnya. Kolaborasi inilah yang menjadi kekuatan utama kita untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan di masa depan," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Denny Abdi juga mengapresiasi berbagai langkah pembangunan yang dilakukan Pemerintah Kota Padang, termasuk memperluas kerja sama internasional dan pembersihan Batang Arau.